PANDEMI BIKIN EMOSI? YUK, KALEMIN DIRI SENDIRI!
Medan, Your Healing Partner -- Manusia dilahirkan dengan kodratnya sebagai makhluk sosial, tak pernah luput dari naik turunnya emosi juga rasa bosan yang sesekali datang menghampiri. Terlebih jika karakter yang dimiliki senang bersosialisasi dan berbagi energi, tentu bila dipaksa berdiam diri dan jaga jarak sana-sini akan menjadi hal yang kurang disukai. Jika terus-menerus dihadapkan dengan kondisi seperti ini, alam bawah sadar tanpa disadari akan mulai memberi sinyal-sinyal pergolakan batin duniawi, ujung-ujungnya? Bisa stress sendiri!
Kita semua tahu, pandemi beberapa bulan terakhir telah lahir menjadi suatu hal yang merugikan banyak pihak, bukan dari segi kesehatan jasmani dan ekonomi saja, tapi sudah merambah kepada kesehatan mental yang gak kalah penting daripada sektor-sektor diatas.
Menurut mbak psikolog klinis Analisa Widyaningrum, stress adalah bentuk persepsi dan respon fisiologis atau psikologis terhadap stressor alias penyebab stress. Stress ditandai dengan adanya perubahan yang mempengaruhi perasaan dan perilaku, biasanya orang yang terjangkit stress memiliki perasaan yang cenderung tidak stabil dan perilaku yang berubah secara signifikan. Nggak heran kalau selama pandemi dan dirumah aja, emak bisa lebih garang binti sensian liat kita pegang gawai terus disangka update status mulu padahal lagi kuliah daring dan kita yang biasanya menanggapi dengan santai, jadinya malah saut-sautan kayak lagi manggil kang bakso yang udah ngacir ke ujung gang.
Tak ada asap bila tak ada api, begitupula dengan stress. Tak ada stress bila tak ada stressor. Berikut ada beberapa bentuk stressor terbesar saat pandemi berlangsung yang dapat kita rangkum menjadi 5 poin, yaitu : kesehatan, finansial dan pekerjaan, pendidikan, hubungan jarak jauh, dan rasa bosan. Apalagi jika kita sudah memenuhi lima syarat stressor diatas, paket komplit!
Nah, apabila stressor-stressor tersebut sudah menghampiri individu dengan frekuensinya yang intens dan akibatnya individu mulai kewalahan dibuatnya, maka disinilah timbul benih-benih stress yang selama ini kerap kali menghampiri kita. Eh, tapi jangan salah sangka dulu sobat! Stress juga nggak selamanya negatif, kok! Stress juga punya sisi positif, yaitu jika kita sudah bisa berdamai dengan ‘pergolakan’ tersebut dan terbitlah kita yang baru, kita yang lebih tahan banting!
---
Ngomongin stress dan tahapannya, ada sebuah teori bernama “Kubler-Ross Model” yang mana teori tersebut terdiri dari berbagai tingkatan atau tahapan emosi yang dialami oleh seseorang ketika dihadapkan dengan situasi yang tidak diinginkan. Dalam “Kubler-Ross Model” terdapat lima tahapan berduka, apa-apa sajakah itu? Mari kita simak penjelasannya :
Lima Tahapan Berduka “Kubler-Ross Model”
1. Denial (Penolakan)
Fase dimana individu menerapkan mekanisme pertahanan sementara dan membutuhkan waktu untuk memproses berita atau kenyataan tertentu yang mengganggu. Seseorang mungkin tidak ingin percaya apa yang sedang terjadi dan apa yang sedang terjadi padanya. Hal ini dapat menurunkan produktivitas dan kemampuan untuk berpikir dan bertindak. Sebagai contoh, “Saya masih bisa bertahan hidup dengan uang PHK akibat pandemi selama beberapa bulan kedepan, saya baik-baik saja, saya yakin pandemi akan segera berlalu.”
2. Anger (Amarah)
Ketika sudah menyadari realita yang terjadi, dan seseorang memahami beratnya situasi, dia mungkin menjadi marah dan kemungkinan mencari seseorang untuk disalahkan. Seseorang selalu cenderung mudah tersinggung, frustrasi dan pemarah selama tahap ini. Sebagai contoh, “Dasar perusahaan kurang ajar! Bagaimana bisa dia mem-PHK saya padahal kinerja saya bagus, kenapa tidak karyawan lain saja?”
3. Bargaining (Tawar-Menawar)
Ketika tahap amarah berlalu, seseorang mungkin mulai memikirkan cara-cara untuk menunda yang tak terhindarkan dan mencoba mencari hal terbaik yang tersisa dalam situasi tersebut. Sebagai contoh, “Baiklah, jika saya bertahan sedikit lagi dan menghemat pengeluaran, setidaknya saya masih bisa bertahan selama dua bulan kedepan…”
4. Depression (Depresi)
Tahap dimana individu cenderung merasakan kesedihan, ketakutan, penyesalan, rasa bersalah dan emosi negatif lainnya. Seseorang mungkin menunjukkan tanda-tanda atau ketidakpedulian, menyendiri, mendorong orang lain menjauh dan tidak ada kegembiraan terhadap apa pun dalam hidup. Ini mungkin tampak seperti titik terendah dalam hidup tanpa jalan ke depan. Beberapa tanda umum depresi termasuk kesedihan, energi rendah, perasaan kehilangan motivasi, kehilangan kepercayaan pada Tuhan, dll. Sebagai contoh, “Sudahlah, tidak ada jalan lain, sebaiknya saya mati saja jika begini terus-terusan, teman-teman dan keluarga juga tidak peduli dengan pengangguran seperti saya…”
5. Acceptance (Penerimaan)
Ketika individu menyadari bahwa melawan perubahan yang datang dalam hidup mereka tidak akan membuat kesedihan hilang, mereka pasrah pada situasi dan menerimanya sepenuhnya. Sikap pasrah mungkin bukan merupakan ruang yang membahagiakan tetapi merupakan ruang dimana orang tersebut dapat berhenti menolak perubahan dan melanjutkannya. Sebagai contoh, “Saya memang pengangguran sekarang, tapi sepertinya saya harus mencoba mencari pekerjaan lain apapun itu yang bisa saya kerjakan walaupun pendapatannya sedikit, setidaknya saya sudah
menerima nasib kehilangan pekerjaan yang dulu…”
---
Pada “Kubler-Ross Model”, jika kita berhasil melewati tahapan-tahapan tersebut, maka kita akan lahir sebagai individu yang sudah menerima kenyataan dan berdamai dengan situasi buruk pemicu stress bahkan depresi. Kita menjadi pribadi yang memiliki resiliensi tinggi jika dihadapkan pada situasi yang mengancam. Satu hal yang perlu diingat, bahwasannya setiap individu memiliki resiliensi atau daya lenting dalam menghadapi masalah yang berbeda, jadi wajar bila setiap individu butuh waktu yang bervariasi dalam berdamai dengan pergolakan batinnya sendiri. Healing take times~
Untuk berdamai dengan stress yang menumpuk akibat pandemi, kita punya beberapa Healing Kit nih, bisa di screencapture atau dicatat ya, kalau mau dipraktekkin langsung juga boleh!
Stressing Pandemic Healing Kit 101
1. Olahraga Teratur
Selain membuat tubuh sehat, berolahraga secara rutin dapat meningkatkan hormon serotonin, endorfin, dan norepinefrin yang menimbulkan perasaan bahagia, memperbaiki mood, serta menekan rasa cemas dan stress. Sabagai catatan, tetap lakukan olahraga di lokasi yang tidak ramai ya sobat, dan jika kamu tergolong orang yang mageran, berolahraga dirumah juga merupakan opsi yang menarik!
2. Konsumsi Makanan Sehat
Kurang-kurangin dulu ngemil makanan bermicin dan perbanyak makan makanan kaya vitamin, protein, serat, dan antioksidan ya sobat agar tubuh kalian kuat serta tidak mudah terserang penyakit.
3. Batasi Akses Media Terkait Covid-19 (note : jika dirasa sudah terlalu meresahkanmu)
Membaca berita mengenai Covid-19 tentu saja diperbolehkan, hanya saja perlu dipilah mana informasi yang valid dan tidak, serta jika sudah merasa informasi yang didapat malah menambah kadar kecemasanmu, matikan data seluler, dan boleh rehat sejenak agar kewarasanmu tetap terjaga.
4. Jaga Komunikasi dengan Orang Terdekat
Sudah lama tidak bertatap muka dan kumpul dengan orang tersayang pasti akan menimbulkan rasa rindu pada orang tersebut. Maka, tetap jalin komunikasi dengan mereka dan tanyakan bagaimana hari-hari mereka berjalan. Cara ini cukup efektif untuk memberantas rindu dan kesepian.
5. Lakukan Hobi atau Temukan Kegiatan Menarik
Kamu bisa mengisi waktu luang dengan melakukan hobi yang sudah sering dilakukan atau justru jarang dilakukan karena tidak punya cukup waktu. Nah, ini saat yang tepat untuk mengeksplor lebih lanjut hobi yang tertunda. Selain hobi, kamu juga bisa mempelajari skill baru yang menarik perhatianmu.
6. Merawat Diri
Merawat diri tidak harus pergi ke salon, dirumah pun kamu bisa memanjakan dirimu sendiri. Berlaku tidak hanya bagi wanita saja, pria juga boleh banget merawat diri dan buat orang disekitarmu terkejut dengan kamu yang semakin glow up saat pandemi berakhir!
7. Isi Kepala dengan Informasi Positif
Bisa dilakukan dengan membaca buku yang sudah lama tidak tersentuh, membaca artikel di website, atau melihat berbagai konten edukasi di media sosial.
8. Tidur yang Cukup
Cukup melelahkan
apabila seharian melakukan kegiatan daring, bukan? Untuk itu, kamu butuh
istirahat yang cukup agar keseimbangan tubuhmu tetap terjaga dan punya cukup energi
untuk kembali berkecimpung di dunia daring keesokan harinya. 😆
Dengan menerapkan beberapa tips diatas, diharapkan kita semua bisa terlepas dari belenggu stress baik ringan maupun berat akibat wabah pandemi yang tak berkesudahan ini, sama-sama kita saling menguatkan dan tetap menerapkan protokol kesehatan. Semoga lekas membaik seperti sediakala, Bumi Tercinta. (fm)
Referensi :
Gregory, C. (2020, Juni 25). www.psyccom.net. Retrieved September 13, 2020, from Psycom: https://www.psycom.net/depression.central.grief.html










Sangat bermanfaat.. Terimakasih ya infonha
BalasHapuswaah, terimakasih kembali yaa.
HapusSangat bermanfaat, menambah wawasan
BalasHapusterimakasih kembali :)
HapusMenambah wawasan, terimakasih
BalasHapusterimakasih kembali :)
HapusSangat bermanfaat, jazakillah Khoir
BalasHapusalhamdulillah, terimakasih kembali, bu :)
HapusBagus & bermanfaat
BalasHapusterimakasih yaa :)
Hapusisi nya bagus cuman masih ada yang kurang bisa ditambahkan ibadah terutama
BalasHapuswah, iya, kelupaan saya, terimakasih sudah mengingatkan :)
HapusBagus dan bermanfaat...
BalasHapusterimakasih :)
HapusGood
BalasHapusthankyou!
Hapus